Surabaya, 25 April 2026 - Peringatan Hari Kartini tahun
2026 di SMA 17 Agustus 1945 Surabaya ini menghadirkan suasana yang berbeda dari
tahun-tahun sebelumnya. Jika peringatan biasanya hanya kegiatan seremonial
seperti halnya upacara bendera saja, kali ini OSIS menghadirkan konsep yang
lebih dinamis dan partisipatif. Mengusung tema “Emansipasi Wanita”, rangkaian
kegiatan tidak hanya menonjolkan aspek estetika, tetapi juga memberikan ruang
bagi siswa untuk berpikir kritis, berkarya, serta berani mengekspresikan diri.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 21 April 2026
tersebut dipusatkan di lingkungan sekolah dengan Plaza Sekolah sebagai podium
pelaksanaan acara. Berbagai penampilan, seperti fashion show yang dipadukan
dengan pembacaan puisi, berlangsung meriah dan terbuka. Di sisi lain, setiap
kelas dimanfaatkan sebagai ruang kreativitas melalui lomba majalah dinding
(mading), sementara lomba video kreatif menjadi wadah bagi siswa untuk
menyalurkan ide secara lebih modern dan relevan dengan perkembangan zaman. Seluruh
siswa turut memeriahkan suasana dengan mengenakan kebaya, batik, dan pakaian
adat, sehingga menciptakan nuansa budaya yang kuat namun tetap terasa segar.
Partisipasi aktif juga ditunjukkan oleh para guru yang turut ambil bagian dalam
memeriahkan kegiatan.
Dalam pelaksanaannya, OSIS berperan sebagai penggerak utama
kegiatan. Seluruh proses, mulai dari perencanaan konsep, pengaturan teknis,
hingga pelaksanaan acara, dilaksanakan secara mandiri oleh siswa dengan
pendampingan guru sebagai pembina sekaligus juri. Meskipun menghadapi berbagai
tantangan, terutama dalam mendorong partisipasi aktif siswa, hambatan tersebut
dapat diatasi dengan baik. Hal ini tercermin dari tingginya antusiasme siswa
serta dukungan penuh dari pihak sekolah.
Lebih dari sekedar perlombaan, kegiatan ini membawa misi
yang lebih besar. OSIS berupaya menanamkan nilai-nilai emansipasi secara nyata
kepada siswa. Melalui lomba mading, siswa belajar tentang kemandirian dan
kreativitas. Melalui fashion show dan pembacaan puisi, siswa dilatih untuk
berani tampil dan menyampaikan gagasan. Sementara melalui video kreatif, siswa
diajak memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk menyuarakan perubahan.
Seluruh rangkaian kegiatan ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki potensi
yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan.
Dampak positif dari kegiatan ini pun terasa secara nyata.
Siswa menunjukkan peningkatan rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, serta
kebanggaan terhadap lingkungan sekolah. Suasana sekolah yang sebelumnya
cenderung biasa menjadi lebih hidup, penuh semangat, dan sarat kreativitas.
Respon positif juga datang dari para guru yang mengapresiasi inovasi OSIS dalam
mengemas peringatan Hari Kartini menjadi lebih relevan dan bermakna.
Sebagai penutup, Ketua OSIS menyampaikan harapannya terhadap
keberlanjutan kegiatan ini, “Harapan saya cukup sederhana tapi mendalam, Saya
ingin standar event yang kami mulai tahun ini menjadi budaya baru, bukan
sekadar kenangan. Saya ingin adik-adik kelas nanti punya keberanian untuk terus
mendobrak tradisi lama yang membosankan dan menggantinya dengan inovasi yang
lebih gila lagi. Saya ingin semangat emansipasi ini nggak cuma berhenti di
simbol kebaya yang kita pakai hari ini, tapi terus hidup dalam cara kita
berpikir dan bertindak. Singkatnya, saya ingin hari ini menjadi bukti bahwa
OSIS kita pernah menetapkan standar tinggi untuk sebuah perubahan, dan saya
berharap api itu nggak akan pernah padam.”
Ke depan, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi momen tahunan semata, tetapi dapat berkembang menjadi tradisi baru dalam memperingati hari-hari besar di sekolah. Dengan pendekatan yang lebih aktif, kreatif, dan kontekstual, peringatan semacam ini diharapkan mampu terus menumbuhkan semangat berkarya, berpikir maju, serta keberanian untuk menciptakan perubahan di kalangan siswa.